Kamis, 30 Mei 2013

Tertatih Mempetahankanmu ~ Part 1 ~ ( From @LongDistance_R)

Hai, selamat pagi. Aku ingin menyapamu dengan sederhana meskipun hanya pesan singkat, bukankah itu akan membuatmu tenang kalau aku baik-baik saja di sini, ya meskipun aku selalu berharap kau membalasnya, namun pada kenyataanya kau tetap tak membalas pesan singkat itu. Aku masih ingat dan masih menyimpan pesan singkat yang kau kirimkan dulu saat aku
terbangun tidur, kau begitu romantis maka aku jatuh cinta padamu sampai saat ini, tapi perlakuan itu dulu. Saat ini, kau berubah. Kau tahu? Aku ingin menyeduhkan teh hangatcketika kau terbangun di pagi hari dan
menyiapkan sarapan di pagi hari, tapi entahlah ini mungkin belum saatnya aku melakukannya. Mungkin, kau juga begitu, ingin memberikan kecupan hangatmu saat aku terbangun tidur ketika ayam mulai berkokok
di pagi hari, ini belum saatnya katamu, dulu.

Hai selamat siang. Dari pagi, aku menunggu kabarmu, tapi entahlah kau kemana aku selaluvberfikir kalau kau baik-baik saja di sana.
Mungkin, kau masih tenggelam denganvbanyaknya kesibukkanmu, aku selalu berfikir positif tentang ini, begitu beruntungnya kau memilikiku, aku tak meminta banyak waktumu dan aku sudah tak menuntut banyak
hal. Bukankah kedewasaan ini yang kau ajarkan padaku, dulu. Tapi semakin ke sini, sadarkah kau kalau rindu ini sepihak "hanya aku yang mengalami hal ini, hanya aku. Jika aku mengeluh tentang ini padamu langsung, kau akan berkata "aku mudah lelah, dan aku si pengeluh yang kambuhan". Kau mengajarkanku kedewasaan, bisakah kau mendewasakan dirimu akan "rindu yang
sepihak ini". Dulu, kau rutin mengingatkanku agar aku tak lupa makan siang, akupun begitu. tapi sekarang, keadaan memang berubah. Kau menghilangkan kebiasaan "mengingatkan makan siang itu" dan aku tetap mengingatkanmu, bukankah ini sepihak?

Hai, selamat malam kamu. Aku rindu, dan kau abaikan. Aku ingin bertemu dan kau seakan tak peduli. Sebenarnya, aku ingin bercerita banyak hal malam ini dan kau tetap saja tak ingin mendengarkannya. Lalu, aku ini siapa?
Mungkin kau lupa, rutinitas kita dulu yang pernah kita sepakati bersama setiap jam 7malam aku atau kamu harus menelpon dan menghubungi, bercerita banyak hal apa yang telah kita lakukan hari ini dan apa yang akan
kita lakukan esoknya, semua ini kenangan...
entah dari kapan rutinitas ini sudah kita lupakan dan tak kita lakukannya kembali, aku tak pernah bosan dengan rutinitas seperti itu, menurutku itu yang membuat aku yakin denganmu. Setidaknya ketika malam kau
menelponku aku selalu membayangkan kalau
kau memelukku dengan suara-suaramu itu, rindu yang berkehendak akan itu, sadarkah kau?

Ini spesial untuk "G" yang disana :')

0 komentar:

Posting Komentar